Banyak Desakan, Pemerintah Belum Mau Turunkan Harga BMM

Suparjo Ramalan-iNews
.
Rabu, 21 September 2022 | 12:00 WIB
Pemerintah Belum Berencana Turunkan Harga BBM (foto okezone)

JAKARTA  iNews - Ada usulan seorang menteri agar  mau menurunkan harga minyak Bahan Bakar Minyak (BBM) .  Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan tidak ada rencana kembali menurunkan harga BBM. 

Dijelaskannya, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik 47 sen, atau 0,51% menjadi USD91,82 per barel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober naik 42 sen atau 0,49% menjadi USD85,53 per barel.


"BBM masih di USD90 per barel, belum turun. Kalau BBM USD65, harganya masih naik," ucap Erick saat ditemui wartawan di kawasan DPR/MPR,  Rabu (21/9/2022).

Erick mengaku, ada pernyataan salah satu Menteri yang belum berencana menurunkan harga BBM, meski pun aksi penolakan terus dilakukan masyarakat dan mahasiswa.

Mantan Bos Inter Milan itu menilai perkara BBM harus dilihat secara menyeluruh. Poin utama pemerintah bukan menaikan atau menurunkan harga BBM. Namun, memangkas subsidi BBM agra impor bahan bakar tersebut bisa ditekan.

Pemerintah, lanjut Erick, mengingatkan bahwa Indonesia bukan negara produsen atau eksportir BBM. Namun, sebagai negara importir yang dilakukan sejak 2003 silam. Karena itu, berbagai langkah diambil pemerintah untuk menekan impor BBM.

"Kalau nggak salah sempat Menteri nggak mau BBM turun, bukan itu poinnya. konteksnya harga yang penting, kita impor BBM dari 2003, artinya kita negara pengimpor bukan negara ekspor, masyarakat seakan-akan kira kita masih negara produsen BBM. Benar, tapi kita banyak impornya karena jumlah penduduk Indonesia mungkin 100 juta, sekarang 300 juta," tutur dia.

Peningkatan jumlah penduduk Indonesia, kata Erick, mendorong adanya peningkatan volume konsumsi BBM, lantaran bertambahnya jumlah kendaraan baik roda dua dan empat.

"Tentu pengguna mobil ini meningkat, makanya blueprint energi nasional sedang diperbaiki dengan cara mengganti mobil ke listrik. Sebagian mobilnya, yang namanya industri mobil yang pakai mesin tidak mungkin hilang, Tapi harus diseimbangkan dengan B20 & B40," ungkap Erick.

Editor : Banda Haruddin Tanjung
Bagikan Artikel Ini