Memanas! Jet AS Serang Menara Hormozgan, Iran Balas Rudal Pangkalan Militer di Kuwait
TEHERAN,iNewsPekanbaru.id — Eskalasi ketegangan di Timur Tengah kembali membara setelah Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang membidik pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait pada Senin (1/6/2026) pagi. Aksi ofensif ini terjadi hanya berselang beberapa jam setelah Teheran menuding pasukan Washington merusak menara telekomunikasi mereka di Pulau Sirik, Provinsi Hormozgan selatan.
Pihak Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengeklaim bertanggung jawab atas serangan yang diluncurkan dari wilayah Omidiyeh, Provinsi Khuzestan barat daya tersebut. Melalui pernyataan resminya yang dirilis Kantor Berita Tasnim, IRGC menegaskan bahwa operasi militer ini merupakan aksi balasan instan demi menghancurkan pangkalan udara yang menjadi titik awal agresi AS ke wilayah mereka.
Di sisi lain, militer Kuwait langsung mengaktifkan status siaga. Staf Umum Angkatan Darat Kuwait mengonfirmasi bahwa rentetan suara ledakan yang terdengar di wilayahnya merupakan hasil kerja aktif sistem pertahanan udara yang berhasil mencegat instalasi rudal dan drone musuh. Otoritas setempat juga mengimbau warga untuk tetap tenang dan mematuhi instruksi keselamatan.
Baku hantam udara terbaru ini menjadi sinyal bahaya runtuhnya stabilitas yang sempat diupayakan lewat jalur diplomasi. Sebelumnya, bentrokan masif antara AS-Israel dan Iran yang sempat berkecamuk selama enam minggu sejak akhir Februari lalu, sempat diredam melalui kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan pada 8 April.
Namun, jeda pertempuran tersebut nyatatnya belum melahirkan kesepakatan damai yang permanen. Iran secara terbuka menunjukkan sikap skeptisnya terhadap niat baik Washington. Ketua Parlemen sekaligus Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan sudi menandatangani perjanjian apa pun sebelum hak-hak kedaulatan rakyat Iran dipenuhi sepenuhnya, seraya menyatakan tidak percaya pada janji-janji manis musuh.
Ketegangan diplomatik ini kian meruncing menyusul laporan yang menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah mengembalikan draf perjanjian kerangka kerja kepada Teheran. Trump sengaja menyodorkan klausul baru dengan syarat yang jauh lebih mencekat, khususnya yang berkaitan dengan pembatasan ketat program nuklir Iran.
Dalam wawancaranya bersama Fox News, Trump menegaskan bahwa harga mati bagi AS adalah memastikan Iran sama sekali tidak memiliki akses terhadap senjata nuklir. Meski menyatakan masih membuka pintu diplomasi secara santai, Trump secara implisit melempar sinyal ancaman bahwa Washington tidak akan ragu menempuh opsi militer yang berbeda jika jalur negosiasi menemui jalan buntu.
Kini, dengan kembali meluncurnya rudal-rudal IRGC ke pangkalan AS, Timur Tengah kembali berada di ambang perang terbuka. IRGC bahkan telah melayangkan peringatan keras kepada Washington bahwa respons yang jauh lebih mematikan tengah menanti jika AS berani melakukan provokasi lanjutan.
Editor : Banda Haruddin Tanjung