Mengenang Gajah Jovi, Sang 'Diplomat Rimba' Riau yang Kini Telah Menuntaskan Tugasnya
PEKANBARU – Di mata para mahout (pawang) dan petugas lapangan di Riau, Jovi bukan sekadar gajah binaan seberat berlarat-larat ton. Ia adalah kawan, benteng perlindungan, sekaligus 'diplomat rimba' yang selama lebih dari seperempat abad berdiri di garis paling depan untuk mendamaikan dua dunia: manusia dan alam liar.
Kini, sosok jantan yang gagah dan penuh wibawa itu telah tiada. Setelah 34 hari berjuang gigih melawan sakit di tubuh renta usianya yang menginjak 46 tahun, Jovi menghembuskan napas terakhirnya di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, Siak.
Namun, rekam jejak dan kebaikan hatinya akan terus hidup dalam sejarah konservasi bumi Lancang Kuning.
Bergabung sejak 18 Februari 1998 usai dievakuasi dari Indragiri Hulu, Jovi tumbuh menjadi salah satu gajah binaan paling senior dan berpengalaman di PLG Minas. Tubuh besarnya bukan digunakan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membawa kedamaian.
Setiap kali gesekan antara warga dan kawanan gajah liar memuncak—baik saat gajah liar masuk ke pemukiman warga maupun merusak perkebunan—Jovilah yang selalu dipercaya untuk turun ke lapangan.
Sebagai gajah penjinak dan penggiring, Jovi memiliki aura ketenangan yang luar biasa. Dengan keteguhan dan wibawanya, ia mampu 'berkomunikasi' dan memimpin kawanan gajah liar yang panik agar mau berbalik arah kembali ke dalam kawasan hutan tanpa perlu ada tindak kekerasan. Tanpa kehadiran sosoknya, konflik satwa dan manusia di Riau tentu akan memakan jauh lebih banyak korban.
"Selama lebih dari dua dekade, Jovi memegang peran vital dalam mitigasi konflik. Kehadirannya selalu menjadi solusi penengah di lapangan," kenang Plh. Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin Selasa (4/8/2026).
Karakter Jovi yang pantang menyerah tidak hanya terlihat saat bertugas di hutan, tetapi juga di masa-masa terakhinya. Ketika penyakit infeksi berat menyerang tubuhnya sejak 1 Juli 2026, Jovi menunjukkan daya juang yang luar biasa.
Meski kakinya kaku dan tubuhnya gemetar, sang veteran ini sempat berjuang keras untuk berdiri kembali dan menghabiskan pakan yang disuapkan para perawatnya. Ia seolah ingin menunjukkan kepada tim medis dan para mahout yang mendampinginya 24 jam bahwa ia belum ingin menyerah.
Namun, fisik sang penengah konflik itu akhirnya lelah. Komplikasi infeksi dan kelumpuhan otot berat (myopathy) memaksa Jovi meletakkan seluruh bebannya pada Senin (3/8/2026) malam.
Editor: Banda Haruddin Tanjung