Ih Telurnya Glowing dan Hangat! Cerita Seru Mahasiswa KKN Unri Berburu Telur Puyuh di Pekanbaru

Nanda
Mahasiswa Unri KKN di Peternakan Telur Puyuh Milik Raja, UMKM di Cipta Karya (foto iNewsPekanbaru.id)

PEKANBARU,iNewsPekanbaru.id — Gerimis tipis yang membasahi kawasan Komplek Trans Jasa Industri, Jalan Cipta Karya, Pekanbaru malam itu tidak menyurutkan semangat belasan anak muda. Di bawah temaram lampu kandang, tangan-tangan mereka dengan cekatan namun hati-hati memungut buritan telur bercangkang totol-totol dari rak-rak bambu.

“Klek... klek... klek,” bunyi khas telur puyuh yang saling bersentuhan saat ditata di atas tray (papan telur). Suara itu seolah menjadi ritme pembuktian bahwa telur yang mereka panen benar-benar padat dan segar.

"Ihh... Telurnya masih anget, kadang masih ada hangat badan si puyuh. Cangkangnya totol-totol, telurnya glowing," celos seorang mahasiswi kegirangan, memecah keheningan malam.

Mereka adalah 12 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (Unri) yang tergabung dalam kelompok "FISIP Berdampak Membangun Negeri". Kelompok ini diperkuat oleh M Favian Abdullah, Angga Syahputra, Anggun Syafitri, Annisa Zahra, Avril Ebriyan Hadi, Bima Aulia, Irfan Fadhly, Indri Asmarani, Rifkiansyah Zaidan, Naurah Nazhiraah, Rakha Muhammad, dan Yudhistira Wicaksono. Anak-anak muda semester 4 Program Studi Ilmu Komunikasi ini memilih terjun langsung ke hulu ketahanan pangan di DeKings Farm dan Kelompok Ternak Pemuda Trans Bersatu.

Bagi anak-anak muda ini, memanen telur langsung dari kandangnya memberikan sensasi yang jauh berbeda ketimbang sekadar membelinya di pasar modern atau kedai kelontong. Riuh suara puyuh, aroma khas konsentrat, hingga kehangatan suhu kandang berpadu menjadi sebuah pengalaman sensorik yang tak terlupakan.

"Pak, boleh tiap hari panen telurnya? Boleh pegang burung puyuhnya? Ini bertelur tiap hari ya, Pak?" celetuk mahasiswa lainnya, antusias.

Selama kunjungan, rombongan mahasiswa ini didampingi langsung oleh petugas Bidang Mutu, Wahidun, serta Bidang Kemitraan dan Niaga, Rian Hidayat.

Kunjungan ini bukan sekadar ajang wisata edukasi. Sebagai mahasiswa komunikasi, mereka memanfaatkan momentum ini untuk mengulik lebih dalam strategi bertahan peternak lokal di tengah fluktuasi ekonomi. Mulai dari siasat menghadapi lonjakan harga pakan, mengantisipasi harga telur yang anjlok, hingga menyiasati daya beli pasar yang dinamis.

"Kondisi pasar dan penjualan bagaimana Pak? Apakah langsung ke agen atau seperti apa?" tanya Ketua Kelompok KKN, M Favian Abdullah saat sesi diskusi.

Ketua Kelompok Ternak, Raja Adil Siregar, membeberkan bahwa kunci keberlanjutan usaha mereka terletak pada ekosistem lokal dan jaringan UMKM sekitar.

"Pasar kita langsung ke konsumen atau warung-warung sekitar. Harganya bersaing karena telur dalam kondisi fresh. Kami juga melibatkan pelaku UMKM dan masyarakat sekitar untuk penjualannya," jelas Raja.

Menariknya, bisnis ini menerapkan konsep zero waste (minim limbah). Raja menjelaskan, selain telur segar yang bernilai ekonomis tinggi, kotoran hewan (kohe) puyuh diolah menjadi pupuk organik murni. Pupuk kaya nutrisi ini kemudian disalurkan kepada ibu-ibu PKK setempat untuk menyuburkan program ketahanan pangan mandiri, seperti budidaya cabai dan sayuran.

Editor : Banda Haruddin Tanjung

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network