PELALAWAN,iNewsPekanbaru.id — Tragedi memilukan menimp kakak beradik di Kabupaten Pelalawan, Riau. Keduanya menjadi korban aksi pembegalan sadis di dalam area perkebunan kelapa sawit. Sang kakak, Julfan Setia Hulu (21), meregang nyawa usai dianiaya secara brutal oleh para pelaku, sedangkan adiknya yang masih di bawah umur, JH (15), berhasil selamat meski mengalami trauma mendalam dan luka-luka.
Julfan ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di areal perkebunan kelapa sawit milik warga di Desa Pangkalan Panduk, Kecamatan Kerumutan, pada Jumat (29/5/2026) sore. Sementara sang adik langsung dilarikan ke fasilitas medis setelah berhasil lolos dari cengkeraman pelaku.
Kapolres Pelalawan, AKBP John Louis Letedara, mengungkapkan bahwa peristiwa berdarah ini bermula saat kedua korban baru saja selesai memanen kelapa sawit. Dengan mengendarai sepeda motor, mereka bermaksud untuk langsung bertolak pulang ke rumah.
Namun di tengah perjalanan, laju kendaraan mereka mendadak dihentikan oleh seorang pria tidak dikenal. Pria tersebut berpura-pura meminta bantuan kedua korban untuk melangsir atau menarik sepeda motornya yang diklaim mogok dan rusak di dalam area kebun sawit.
"Awalnya kedua korban sempat menolak karena ingin segera sampai di rumah. Namun, pelaku terus membujuk mereka dan menjanjikan akan memberi uang rokok jika bersedia menolong," ujar AKBP John Louis Letedara Senin (1/6/2026) kepada wartawan.
Terpedaya oleh siasat licik tersebut, kedua korban akhirnya luluh dan bersedia mengikuti pelaku masuk menyusuri jalan setapak kebun sawit yang posisinya cukup terisolasi dan jauh dari pemukiman penduduk.
Sesampainya di lokasi yang ditunjukkan, boro-boro melihat sepeda motor yang rusak, kedua korban justru dikejutkan dengan keberadaan seorang pria lain yang sudah menunggu di bawah pohon sawit. Pria misterius itu tampak memegang senjata tajam di tangannya.
Sadar diri mereka masuk ke dalam jebakan, Julfan dan adiknya langsung memutar badan untuk melarikan diri. Sayang, gerak cepat para pelaku berhasil mengepung mereka. JH langsung dipukul secara membabi buta lalu seluruh badan dan mulutnya diikat erat menggunakan lakban hitam.
Sementara itu, sang kakak menjadi sasaran amukan yang jauh lebih brutal. Kepada penyidik, JH mengaku hanya bisa menangis pasrah saat mendengar jeritan histeris sang kakak yang merintih kesakitan akibat disiksa di dekatnya tanpa bisa melihat langsung karena posisinya yang terikat.
Usai melampiaskan aksi brutalnya, para pelaku langsung kabur dari lokasi kejadian dengan membawa lari sepeda motor milik korban. Setelah situasi dirasa aman, JH mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya hingga berhasil memutuskan ikatan lakban di tubuhnya.
Dengan langkah tertatih, ia langsung mencari keberadaan sang kakak. JH seketika histeris saat menemukan Julfan sudah tergeletak di tanah dengan posisi tangan dan kaki yang juga masih terikat lakban hitam.
Kondisi Julfan saat itu sudah sangat kritis dengan luka parah di bagian kepala serta darah yang terus mengucur deras dari hidungnya. Dalam kondisi sekarat dan sisa-sisa kesadaran yang ada, Julfan sempat berbisik meminta adiknya itu segera pergi mencari bantuan warga. Naas, begitu JH kembali ke lokasi bersama sejumlah warga sekitar, Julfan ditemukan sudah mengembuskan napas terakhirnya.
AKBP John Louis Letedara menegaskan bahwa modus yang digunakan oleh para pelaku tergolong sangat rapi, yakni sengaja memanfaatkan rasa kemanusiaan korban dengan berpura-pura meminta bantuan demi memancing mereka ke tempat sepi.
Hingga saat ini, Tim Satreskrim Polres Pelalawan masih dikerahkan secara masif di lapangan untuk melakukan penyelidikan intensif, mengumpulkan barang bukti, serta memburu para pelaku yang identitasnya kini tengah diidentifikasi.
"Kita sudah membentuk tim untuk memburu pelaku," tukasnya.
Editor : Banda Haruddin Tanjung
Artikel Terkait
