PEKANBARU,iNewsPekanbaru.id – Kabar duka menyelimuti keluarga Susi Yanti Br Sinaga (22), warga asal Lubuk Dalam, Kabupaten Siak. Riau. Perempuan yang menjadi korban penipuan kerja ke Kamboja ini dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Khmer Soviet Friendship, Phnom Penh, pada Minggu (8/3/2026).
Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Riau, Fanny Wahyu Kurniawan, mengonfirmasi kabar tersebut pada Senin (9/3/2026). Ia menjelaskan bahwa sebelum mengembuskan napas terakhir, kondisi Susi sempat kritis dan harus mendapatkan penanganan di ruang ICU.
Mengenai proses pemulangan jenazah, Fanny menyebutkan bahwa pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) telah berkoordinasi dengan keluarga. Pihak keluarga kemudian meminta bantuan BP3MI/KP2MI untuk memfasilitasi kepulangan almarhumah ke tanah air, meskipun biaya pemulangan ditanggung secara mandiri oleh pihak keluarga.
Sebagai langkah awal di tingkat daerah, BP3MI Riau segera menyurati Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Siak agar berkomunikasi dengan pemerintah kabupaten setempat. Susi merupakan warga asli Siak, sehingga koordinasi dengan pemerintah daerah menjadi krusial dalam proses pendampingan ini. BP3MI memastikan akan terus mengawal fasilitasi hingga jenazah tiba di kampung halaman.
Kisah tragis Susi sebelumnya sempat viral di media sosial setelah dikabarkan "tersandera" di Kamboja. Perempuan kelahiran 2003 ini awalnya dijanjikan pekerjaan di Malaysia oleh seorang kenalannya, namun kenyataannya ia justru dibawa ke Kamboja pada 12 Desember lalu untuk bekerja di sektor industri daring atau scammer. Keberangkatannya pun tergolong ilegal karena hanya bermodalkan paspor tanpa dokumen resmi ketenagakerjaan.
Selama di Kamboja, kesehatan Susi menurun drastis hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Pihak keluarga bahkan sempat menghadapi tekanan berupa tagihan biaya pengobatan yang mencapai puluhan juta rupiah, serta ancaman medis jika biaya tersebut tidak terpenuhi. Foto-foto kondisi Susi yang terbaring lemah dengan selang medis di mulut dan hidung saat melakukan panggilan video dengan keluarga sempat memicu keprihatinan luas di media sosial.
Fanny menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam dalam menangani kasus pekerja migran nonprosedural seperti ini. Ia kembali memberikan imbauan keras kepada masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan janji manis pekerjaan di luar negeri yang tidak melalui mekanisme resmi, guna menghindari terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Editor : Banda Haruddin Tanjung
Artikel Terkait
