Jangan Salah Pembagian, Begini Penjelasan Ustaz Abdul Somad Soal Jatah Daging Kurban
PEKANBARU, iNewsPekanbaru - Dai kondang asal Riau, Ustaz Abdul Somad, mengingatkan masyarakat, khususnya umat Muslim yang hendak melaksanakan ibadah kurban, untuk tertib dalam pembagian jatah daging kurban.
Ustaz yang akrab disapa UAS menegaskan bahwa peserta kurban atau sahibul kurban tidak boleh mengambil jatah daging melebihi hak yang sudah diatur dalam syariat islam, apalagi sampai memanipulasi kupon pembagian di lapangan.
Dalam tuntunan fikih, seorang yang berkurban maksimal hanya boleh menerima jatah sepertiga dari total keseluruhan daging bersih dari hewan yang dikurbankannya. Sisa dari jatah tersebut wajib didistribusikan kepada fakir miskin serta masyarakat umum.
Ustaz Abdul Somad memberikan simulasi konkret mengenai perhitungan jatah bersih yang berhak diterima oleh peserta kurban kelompok, seperti sistem patungan tujuh orang untuk satu ekor sapi. Pembatasan ini bertujuan agar tidak ada hak kaum dhuafa yang tidak sengaja terambil oleh pihak yang berkurban.
"Jika total daging bersih dari satu ekor sapi adalah 60 kilogram, maka hak maksimal untuk seluruh pekurban gabungan adalah sepertiga bagian, yaitu 20 kilogram. Jika 20 kilogram itu dibagi lagi untuk tujuh orang peserta patungan, maka masing-masing orang hanya mendapat jatah sekitar dua koma sekian kilogram. Oleh karena itu, peserta tidak boleh membawa pulang jatah berlebih, misalnya hingga satu bungkus seberat 5 kilogram," kata UAS dari ceramahnya di media social Lensa UAS yang dilihat iNewsPekanbaru Selasa (19/5/2026).
Terkait teknis pembagian oleh panitia, seseorang yang berkurban hanya bisa mendapatkan maksimal dua kupon pembagian, yaitu satu kupon khusus sebagai sahibul kurban dan satu kupon lagi jika yang bersangkutan memang termasuk dalam kategori masyarakat penerima di lingkungan setempat.
Meskipun memakan sebagian daging kurban sendiri hukumnya diperbolehkan dalam agama, Ustaz Abdul Somad menyebutkan bahwa menyerahkan seluruh jatah daging kepada fakir miskin memiliki keutamaan yang jauh lebih tinggi atau menjadi pilihan terbaik bagi umat.
Beliau turut mengapresiasi tingginya kepedulian sosial umat Muslim di Indonesia. Berdasarkan pengamatannya, mayoritas masyarakat Indonesia yang berkurban justru enggan mengambil hak sepertiga mereka secara penuh dan memilih untuk mendonasikannya kepada warga yang lebih membutuhkan.
Menurutnya, banyak warga di Indonesia yang bahkan tidak mengambil kupon sama sekali demi memberikan kesempatan bagi orang lain. Hal tersebut dinilai sangat bagus karena mengutamakan fakir miskin. Namun, jika mereka tetap ingin mengambil haknya, agama tidak melarangnya. Bersyukurnya, rata-rata pekurban di Indonesia tidak pernah mengambil jatah hingga sepertiga penuh sehingga panitia tidak perlu khawatir kekurangan daging untuk dibagikan kepada yang membutuhkan.
Editor : Banda Haruddin Tanjung