Rupiah Longsor ke Rp17.600, Sektor Manufaktur Masuk Zona Kontraksi
JAKARTA iNewsPekanbaru.id – Lonjakan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.600 per dolar AS menjadi pukulan telak bagi sektor manufaktur domestik. Ketergantungan akut terhadap bahan baku dan barang modal impor memicu pembengkakan biaya produksi (input cost) secara drastis di tengah eskalasi ketidakpastian ekonomi global.
Krisis ini tidak sekadar bersumber dari volatilitas kurs (currency mismatch). Disrupsi rantai pasok global pasca-meletusnya konflik geopolitik pada Februari lalu telah mengerek biaya logistik, premi asuransi, hingga komoditas penolong seperti plastik dan energi. Kombinasi faktor ini kian menekan margin laba operasional pabrikan.
Dampak rambatan (spillover effect) tersebut tecatat langsung pada performa Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia. Indikator aktivitas hulu ini terus merosot hingga akhirnya terlempar ke zona kontraksi (di bawah level 50,0) pada April lalu.
Para pelaku usaha kini menghadapi dilema transmisi harga (price pass-through). Di satu sisi biaya produksi melonjak, namun di sisi lain produsen tidak dapat serta-merta menaikkan harga jual produk (selling price) akibat daya beli masyarakat yang sedang lesu.
“Pelemahan nilai tukar ini memperumit lanskap industri. Dari sisi bauran kebijakan, stabilitas kurs menjadi krusial untuk meredam dampak eksternal (external shock) terhadap ekonomi domestik,” ujar Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Sabtu (16/5/2026).
Jika tren depresiasi ini dibiarkan tanpa intervensi, risiko gelombang penutupan pabrik dan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal mengintai industri strategis, khususnya pada subsektor padat karya yang performanya sudah mulai rontok.
Berdasarkan data dunia usaha, struktur biaya industri nasional sangat sensitif terhadap fluktuasi mata uang asing. Berikut adalah postur ketergantungan manufaktur domestik terhadap pasar global:
Editor : Banda Haruddin Tanjung