Surplus Neraca Perdagangan Riau Tembus USD17,7 Miliar, Ekspor Nonmigas Jadi Mesin Utama
PEKANBARU,iNewsPekanbaru.id – Provinsi Riau terus mengukuhkan posisinya sebagai lumbung ekspor nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan Riau periode Januari–November 2025 mencatatkan surplus jumbo sebesar 17,71 miliar Dolar AS. Performa impresif ini dipicu oleh lonjakan ekspor nonmigas yang tetap resilien di tengah fluktuasi ekonomi global.
Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi, mengungkapkan bahwa total nilai ekspor Riau sepanjang sebelas bulan pertama tahun 2025 mencapai19,21 miliar Dolar AS, atau tumbuh 16,55% secara tahunan (year-on-year/yoy).
"Motor utama pertumbuhan ini adalah sektor nonmigas yang melesat 21,18% dengan nilai 18,16 miliar Dolar AS . Meski ekspor migas terkontraksi 29,85% akibat penurunan output industri pengolahan minyak, solidnya permintaan komoditas unggulan mampu menjaga surplus tetap tebal," ujar Asep dalam rilis resmi di Pekanbaru, Senin (5/1/2026).
Sektor lemak dan minyak nabati (termasuk CPO dan turunannya) masih menjadi "primadona" dengan kontribusi kenaikan terbesar senilai US$2,52 miliar (naik 31,84%). Selain itu, pertumbuhan positif juga diikuti oleh komoditas produk kimia, kertas/karton, dan makanan olahan.
Dilihat dari peta destinasi, pasar Asia masih mendominasi aliran ekspor nonmigas Riau:
Tiongkok: 3,06 miliar Dolar AS
India: 1,59 miliar Dolar AS
Malaysia:1,27 miliar Dolar As
Kawasan ASEAN: 3,34 miliar Dolar AS
Uni Eropa: 2,13 miliar Dolar AS
Berbanding terbalik dengan ekspor, kinerja impor Riau justru menunjukkan tren penurunan. Selama Januari–November 2025, nilai impor tercatat sebesar 1,50 miliar Dolar AS, terkoreksi 16,46% (yoy).
Penurunan paling tajam terjadi pada kategori barang modal yang anjlok hingga 59,13%. Secara ekonomi, penurunan impor barang modal sering kali menjadi indikator melambatnya ekspansi kapasitas produksi atau kebutuhan investasi baru di dalam negeri.
Meski secara kumulatif positif, rapor merah terlihat pada performa bulanan. Ekspor Riau pada November 2025 tercatat sebesar US$1,63 miliar, atau turun 4,55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini dipicu oleh koreksi pada pengiriman nonmigas sebesar 4,06%.
"Menjaga stabilitas kinerja ekspor dan mengendalikan struktur impor akan menjadi tantangan utama di tahun 2026 untuk memastikan surplus neraca perdagangan tetap berkelanjutan," pungkas Asep.
Editor : Banda Haruddin Tanjung