Ketika Ilusi Gaib Merenggut Nyawa Bocah di Rohul di Tangan Sang Ibu
ROKAN HULU,iNewsPekanbaru.id – Rumah sederhana di Desa Muara Dilam, Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, kini mendadak senyap. Sisa-sisa ketakutan masih terasa di udara. Di sanalah, seorang bocah perempuan berinisial AA (11 tahun) mengembuskan napas terakhirnya dalam sebuah tragedi memilukan yang lahir dari sebuah keputusasaan mistis.
Ia tewas di tangan DR (41), ibu kandungnya sendiri—sosok yang seharusnya menjadi pelindung paling aman baginya. DR kini harus berhadapan dengan hukum setelah jeratan ilusi "pengobatan spiritual" membutakan mata batinnya dan merenggut nyawa darah dagingnya sendiri. Kini pelaku sudah diamankan petugas.
"Pelaku sudah kita tanggkap setelah ayah korban melapor," ujar Kapolres Rokan Hulu, AKBP Emil Eka Putra, Minggu (17/5/2026).
Peristiwa kelam itu bermula pada Kamis sore (14/5/2026), sekitar pukul 15.00 WIB. DR mendadak meyakini bahwa tubuh kecil putrinya telah dirasuki oleh roh halus. Alih-alih mencari pertolongan medis, kepanikan yang tak rasional mendorong DR untuk melakukan tindakan ekstrem yang diyakininya sebagai ritual penyembuhan.
Menggunakan tangan kosong, DR mulai melakukan kekerasan fisik kepada AA. Seorang tetangga yang menyadari keanehan tersebut sempat berupaya masuk dan menghentikan aksi DR. Namun, situasi justru kian tak terkendali. DR yang gelap mata justru meraih sebuah kaleng bekas susu kental manis—yang sehari-hari digunakan sebagai asbak—lalu melayangkannya ke tubuh sang anak.
Suasana semakin kritis ketika DR, dalam pusaran halusinasinya, memasukkan potongan rambut, ikat rambut, hingga gumpalan kertas ke dalam mulut AA secara paksa. Tindakan tragis ini seketika menyumbat jalur udara di tenggorokan bocah malang tersebut.
Waktu merambat ke pukul 18.30 WIB ketika senja mulai turun di Muara Dilam. Suara jeritan lirih AA yang meminta pertolongan sempat memecah keheningan desa. Namun, ketakutan akan hal-hal ghaib dan situasi yang dinilai tak wajar membuat warga sekitar sempat tertahan di luar pintu, dilingkupi keraguan yang mencekam.
Ketika keberanian akhirnya terkumpul, warga bersama tokoh masyarakat setempat mendobrak masuk. Di dalam rumah, mereka menemukan AA sudah terbujur kaku tak berdaya.
Seorang bidan desa segera dipanggil untuk memeriksa kondisi korban. Namun, takdir berkata lain. Garis kehidupan AA telah terputus. Pemeriksaan awal menunjukkan adanya luka memar di area kepala, serta benda-benda asing yang menyumbat saluran pernapasan, menjadi saksi bisu menit-menit terakhir perjuangan bocah tersebut untuk bertahan hidup.
"Berdasarkan hasil penyelidikan, pelaku diduga melakukan tindakan yang disebut sebagai pengobatan spiritual terhadap korban dengan alasan korban mengalami kerasukan," ujar Kapolres Rokan Hulu, AKBP Emil Eka Putra, Minggu (17/5/2026).
Setelah sempat menghilang dari lokasi kejadian dalam kondisi terguncang, DR akhirnya berhasil diamankan oleh jajaran Satreskrim Polres Rokan Hulu. Polisi menyita sejumlah barang bukti yang memilukan, termasuk pakaian korban, potongan rambut, ikat rambut, dan kaleng bekas yang digunakan saat peristiwa terjadi.
Tragedi ini menyisakan luka yang teramat dalam bagi keluarga, terutama sang ayah. Pria yang harus kehilangan putri kecilnya sekaligus menghadapi kenyataan bahwa istrinya adalah sang pelaku, melangkah dengan berat hati ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian ini secara resmi.
Di balik jeruji besi, DR kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sementara bagi warga Muara Dilam, kepergian AA akan selalu menyisakan tanya dan duka mendalam tentang bagaimana sebuah kasih sayang ibu bisa terdistorsi menjadi kepedihan yang begitu menyayat hati.
Editor : Banda Haruddin Tanjung