Udara Pekanbaru Memburuk Akibat Karhutla, Warga Diminta Pakai Masker
PEKANBARU,iNewsPekanbaru.id — Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membakar sedikitnya 783 hektare lahan di berbagai wilayah Provinsi Riau kini makin nyata merambah kawasan perkotaan. Imbas kepungan asap tersebut, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Wilayah Riau mengimbau warga Kota Pekanbaru untuk memperketat perlindungan diri dengan mengenakan masker saat keluar rumah, menyusul anjloknya kualitas udara pada Kamis (20/8/2026).
Peringatan ini menyala setelah papan pemantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencatat konsentrasi partikulat halus (PM 2,5) melampaui angka 150, yang menandakan udara Pekanbaru resmi masuk dalam kategori Tidak Sehat atau zona merah.
Sekretaris PDPI Wilayah Riau, dr. Indra Yovi, Sp.P(K), mengungkapkan bahwa paparan polusi asap berisiko tinggi memicu iritasi saluran pernapasan. Merekam pola paparan bulanan, penurunan kualitas udara ini paling terasa pekat pada pagi hari.
"Proteksi saluran napas sangat krusial untuk mencegah dampak buruk paparan kabut asap, seperti sesak napas, batuk-batuk, hingga nyeri tenggorokan. Bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah, pihak PDPI menyarankan minimal menggunakan masker medis,"katanya Kamis (20/8/2026).
Tak hanya mengandalkan masker, dr. Indra Yovi juga membagikan beberapa langkah panduan kesehatan untuk membendung dampak buruk kabut asap. Masyarakat diminta meningkatkan konsumsi air putih secara teratur guna mencegah dehidrasi sekaligus menjaga kelembapan tenggorokan agar tidak mudah teriritasi. Selain itu, warga diimbau untuk menjaga imunitas tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan kaya nutrisi.
Ia juga memberi perhatian khusus pada proteksi kelompok rentan. Kelompok masyarakat seperti lansia, anak-anak, serta individu yang memiliki riwayat penyakit paru kronis atau asma disarankan untuk sepenuhnya menghindari aktivitas di luar ruangan.
Maraknya kabut asap di pusat kota ini tak lepas dari masih tingginya tensi karhutla di daerah penyangga. Dengan total kerusakan lahan yang sudah mencapai 783 hektare, warga diimbau untuk tidak menganggap remeh ancaman polusi udara ini sampai titik api benar-benar berhasil dipadamkan.
Editor : Banda Haruddin Tanjung