Tak Ikut Isap Ganja Tapi Positif, Dokter Paru Ungkap Fenomena Perokok Pasif Narkoba
PEKANBARU ,iNewsPekanbaru.id – Kasus terjaringnya 13 pengunjung tempat hiburan malam di Pekanbaru oleh tim gabungan pada Minggu (24/5/2026) dini hari lalu, menyisakan fakta unik. Di antara para pelaku yang terbukti positif narkoba, terdapat satu orang yang dinyatakan positif ganja meski mengaku tidak pernah mengisapnya. Ada dua orang yang disorot yakni AF anak pejabat penting di Pelalawan dan selegram SA.
Belakangan diketahui, pria yang juga merupakan anak salah satu pejabat daerah di Riau tersebut, menjadi "pengisap pasif" akibat terjebak di dalam toilet yang sempit bersama pengguna aktif.
Berdasarkan data kepolisian, 13 orang yang diamankan terdiri dari 8 laki-laki dan 5 perempuan lintas daerah (Pekanbaru, Kampar, dan Pelalawan). Seluruhnya dinyatakan positif mengonsumsi zat Etomidate. Namun, tiga di antaranya juga positif ganja, di mana salah satunya adalah pengguna pasif tersebut. Kronologi menunjukkan, mereka sempat berada dan mengobrol di dalam satu ruangan toilet tertutup yang minim ventilasi saat dua rekannya sedang mengisap ganja.
Menanggapi fenomena ini, Dokter Spesialis Paru Riau, dr. Indra Yopi, menjelaskan bahwa seseorang sangat mungkin dinyatakan positif narkoba hanya karena menghirup asapnya secara tidak sengaja.
"Prinsipnya sama persis seperti perokok pasif. Walaupun dia tidak mengisap secara aktif, jika berada di dalam ruangan tertutup yang pekat akan asap rokok, vape, atau ganja, zat tersebut akan masuk ke paru-paru dan terserap tubuh. Jika dilakukan tes, hasilnya pasti positif," ujar dr. Indra Yopi saat dihubungi, Kamis (28/5/2026).
Menurut dr. Yopi, tidak butuh waktu lama bagi asap ganja di ruang tertutup untuk mengontaminasi sistem tubuh seseorang. Namun, ia menambahkan bahwa kandungan zat tersebut akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
"Durasi bertahannya zat tersebut bervariasi. Jika dilakukan tes melalui sampel rambut, zat ganja bisa terdeteksi hingga satu bulan. Sementara jika melalui tes urine, biasanya akan hilang dalam waktu dua minggu," ungkapnya.
Meskipun potensi tes urine positif pada pengguna pasif lebih kecil dibanding pengguna aktif, faktor lingkungan memegang peranan yang sangat besar.
Risiko paparan akan meningkat drastis jika seseorang berada di area dengan sirkulasi udara yang buruk, seperti di dalam mobil yang jendelanya tertutup rapat atau toilet umum yang sempit. Dalam kasus di Pekanbaru ini, kombinasi ruang toilet yang kedap dan durasi obrolan di dalamnya menjadi penyebab utama sang anak pejabat ikut "terpapar" hasil positif.
Editor : Banda Haruddin Tanjung